Perjuanganmu untuk meraih kecantikan sempurna memang sangat hebat. Hal yang tak akan pernah kulupa sejujurnya. Satu hal tentangmu.
Saat perjalanan tingkat ini, kau dan aku atau mungkin semua umur sebaya kita merasakan perbedaan yang signifikan tentang perjuangan meraih nilai. Ups, seharusnya ilmu, aku tahu. Tapi kita tidak bisa menyangkal bahwa angkalah yang telah memperbudak jalan hidup ini.
Aku selalu berpikir bahwa Tuhan menciptakan setan dan malaikat untuk saling menemani. Maka itu adanya si Jahat dan si Baik di semesta ini. Itulah aku dan kau.
Sebenarnya aku beruntung karena mengenalmu, manusia pintar berwawasan luas, memiliki hati emas, selalu tersenyum dengan ikhlas, berjiwa bagai kapas, membantu orang dengan impas, berhati luas, dan berkata sampai ampas.
Sebaliknya, kuterka, kacamatamu memandangku sebagai teman berhati landas, berjiwa ganas, berlidah pedas, dan tak pernah ikhlas.
Ada beberapa hal yang harus aku utarakan padamu yang mungkin selama ini telah terkubur dalam rongga hatiku.
Sering aku berpikir, bagaimana rasanya jadi kau. Otak punya, wajah punya, penampilan punya, segala punya. Belum pernah kulihat kau sengaja mengangkat namamu tinggi-tinggi untuk memperlihatkan siapa kau. Aku yakin, siapapun yang ada di posisimu tidak akan sanggup untuk bersikap sebaik kau.
Teman terpintar yang sangat baik yang pernah kupunya. Itulah kau. Bukan sekedar teman, orang bilang, kau sahabatku.
Aku akan berkata jujur di sini. Kalau begitu, kau tidak sesempurna itu tentunya. Tapi tak perlu lah aku menjabarkan satu-satu kekuranganmu karena aku berani bertaruh kau juga tahu kekuranganmu.
Kepergianmu adalah madu sekaligus racun. Aku sadar, kau membuatku tertekan dengan permainan Dinas Pendidikan selama ini. Aku pikir awalnya, saat manusia seangkatan kita memasuki lapangan kompetisi antara kau dan aku, kau tak akan lagi menjadi teman di atas ataupun di bawahku. Ternyata, nama aku dan kau yang terpampang di mading pun tak lebih dari 3 inchi jaraknya. Apa maksud Tuhan?
Pikir-pikir, mungkin hidupku akan lebih damai tanpamu. Tak ada lagi kegiatan menyamakan jawaban seusai kegiatan ulum ataupun pemantapan. Tak ada lagi angka yang menunjukkan posisi aku dan kau. Tak ada lagi perasaan gusar dan kesal. Tak ada lagi emosi yang membuncah. Tak ada lagi persaingan. Aahh..indahnya.
Tapi, tunggu.
Tentu aku akan merasakan hal yang ganjil karenanya. Kau adalah orang terpintar terbaik yang pernah kukenal. Lalu kau akan pergi meninggalkan aku? Meninggalkan posisimu? Meninggalkan sekolahmu? Meninggalkan nilai-nilaimu? Meninggalkan jejak garam di sampingku? Aahh..sedihnya.
Tapi tak apa. Mungkin kau memang menginginkan itu. Aku akan ikut bersamamu, tepatnya doaku. Desiran sunyi dariku akan membuntutimu, menjagamu agar kau aman dan betah di sana, Pulau Dewata. Kau akan menemukan saingan yang lebih baik, yang bersahabat, yang ikhlas menemanimu, yang menerima posisinya sebaik mungkin.
Terima kasih banyak atas seluruh kekesalan yang telah kau tumpahkan padaku. Terima kasih banyak atas keikhlasan hati yang telah kau berikan padaku. Terima kasih banyak atas doa yang kau selipkan pada jiwaku saat aku memperjuangkan namamu di atas biologi di Semarang sana. Terima kasih banyak atas semua waktu, batin, dan raga yang kau amalkan padaku.
Permohonan maaf sebesar-besarnya dariku karena sikapku selama ini yang sama sekali tidak membalas setitikpun kebaikanmu.
Kutitipkan lembaran baru dalam bukumu yang baru dimulai dengan satu kata berarti. Bismillahirrahmanirrahim.
—Amadea Farras