Install this theme
Tak Berjudul Tak Berarti Tak Bermakna

Dalam keadaan sadar jiwaku berkata. Dalam keadaan sadar jariku menari di atas papan tombol. Dalam keadaan sadar otakku berpikir untuk menumpahkan bertrilyun kata dalam beberapa paragraf huruf. Dalam keadaan sadar ototku berkontraksi dan berelaksasi untuk menghasilkan sehelai ringkasan suara hati agar dapat terbingkai dengan sempurna oleh seonggok partikel kayu sejati.

Seribu sembilan puluh lima hari yang disusun oleh liur ulat sutera dengan penuh kesabaran, keikhlasan, kegembiraan, dan kekecewaan untuk mengumpulkan beribu lusin serat lembut diakhiri dengan satu hari yang tersusun atas benang kemeriahan dan proses penenunan yang menyedihkan untuk menghasilkan sehelai kain berarti dalam hidup. Hari itu aku tertawa dan menangis dalam waktu yang sama, memandang seluruh kerabatku, dan merenung menatap keikhlasan jiwa guru-guruku.

Aku dirancang sedemikian rupa untuk merasakan sulitnya melepas masa lalu yang luar biasa dalam rangka meraih masa depan yang baru terencana. Apalagi dengan karakter pembimbingku selama 3 tahun ke belakang yang tak terdefinisikan dan tertanam dalam. Memori yang dalam keadaan sadar kuletakkan pada lobus frontal terkendali oleh otak besar tidak sedikitpun ternodai oleh bubuk kemunafikan apalagi butir kebencian.

Tentang kepala sekolah, guru, karyawan, kerabat, sampai lingkungan dengan pasti tak akan pernah beranjak dari pikiranku walaupun sekedar mengangkat kakinya. Semuanya terlalu indah untuk diakhiri dan terlalu bodoh untuk diawali. Aku harus berjalan maju, begitu juga seluruh makhluk biotik dan abiotik di tempat pengabdian ini.

Pelajaran dan pengalaman yang kutempuh selama 3 tahun di surga sekaligus neraka ini melahirkan kesan dan pesan yang tak dapat diukirkan di atas selembar kertas putih. Terlalu rumit dan terlalu sulit.

Hal yang pasti kutahu akan terjadi adalah aku akan merindukan sapaan kepala sekolah, pengorbanan guru, keramahan karyawan, dorongan semangat kerabat, dan atmosfir dunia di sini. Jika aku harus membongkar hati dengan kunci kejujuran, kau akan tahu bahwa jiwaku terguncang dan mentalku berontak saat kenyataan dan harapan membawaku meninggalkan jejak bersejarah di tempat ini. Aku tahu bahwa kerinduan akan menyelimuti detik-detik kehidupan baruku nanti. Kerinduan akan perjuangan sejati guru dan dorongan konkrit kepala sekolah.

Ucapan terima kasih nampaknya sudah terdengar basi dan terkesan bukan merupakan sesuatu yang istimewa. Terlalu sering disampaikan. Terlalu sering diterima. Namun aku sadar, sikap dan perjuanganku untuk membalas seluruh jiwa dan raga yang kau amalkan, para guru, tak akan menggantikan tetes peluh dan lembaran keikhlasan yang telah tertanam dalam alam bawah sadarku. Perjuangan waktu, mental, jiwa, dan raga yang kau sisipkan padaku. Terlalu banyak. Terlalu berat.

Diiringi penjelasan di atas kalimat ini, ucapan terima kasih berjalan dengan anggun di atas karpet permintaan maaf, menyambut kedatanganmu dan kepergian kami.  Kedatanganmu dalam dunia penerus generasi kami dan kepergian kami dari lingkup ruang dan waktu gudang pengalaman ini.

—Amadea Farras

 
  1. chachaazizah reblogged this from farhananariswari
  2. farhananariswari reblogged this from bilingual-third
  3. bilingual-third posted this